• Latest
  • Trending
  • All
Fenomena Baru di Inggris, Bank Ramai Tukar Aset Berisiko Menjadi Uang Tunai

Fenomena Baru di Inggris, Bank Ramai Tukar Aset Berisiko Menjadi Uang Tunai

September 3, 2026
IHSG Naik Turun, Pesan untuk Investor dari OJK

IHSG Naik Turun, Pesan untuk Investor dari OJK

October 14, 2026
Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan Selama Enam Tahun Terakhir

Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan Selama Enam Tahun Terakhir

October 14, 2026
OJK Peringatkan Investor Terhadap Penipuan Saham Menggunakan Deepfake dan AI

OJK Peringatkan Investor Terhadap Penipuan Saham Menggunakan Deepfake dan AI

October 14, 2026
RDP DPRD Sumut Terkait Kematian Winda Lorenza Kapolrestabes Tidak Hadir

RDP DPRD Sumut Terkait Kematian Winda Lorenza Kapolrestabes Tidak Hadir

October 14, 2026
Peringatan ASPI QRIS: Transaksi Judi Akan Diblokir

Peringatan ASPI QRIS: Transaksi Judi Akan Diblokir

October 14, 2026
Cara Efektif Menghemat Data Internet di iPhone agar Tidak Boros

Cara Efektif Menghemat Data Internet di iPhone agar Tidak Boros

October 14, 2026
Indeks Dolar AS Melemah, Rupiah dan IHSG Sama-sama Menguat

Indeks Dolar AS Melemah, Rupiah dan IHSG Sama-sama Menguat

October 14, 2026
Update Hotspot Kebakaran Hutan Tertinggi di Kalimantan Tengah

Update Hotspot Kebakaran Hutan Tertinggi di Kalimantan Tengah

October 14, 2026
Pemegang Saham Pengendali Lepas 402,48 Juta Saham VICI

Pemegang Saham Pengendali Lepas 402,48 Juta Saham VICI

October 14, 2026
Respons Meutya Hafid Setelah Raline Shah Mundur dari Stafsus Menkominfo

Respons Meutya Hafid Setelah Raline Shah Mundur dari Stafsus Menkominfo

October 14, 2026
MSCI Jadi Ancaman IHSG Anjlok 31 Persen Rp5.548 Triliun Hilang

MSCI Jadi Ancaman IHSG Anjlok 31 Persen Rp5.548 Triliun Hilang

October 14, 2026
Jaringan di Batam Pulih 95 Persen Setelah Blackout Selama 15 Jam

Jaringan di Batam Pulih 95 Persen Setelah Blackout Selama 15 Jam

October 14, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Wednesday, October 14, 2026
  • Login
Jiexpo.co.id
  • News
  • Market
  • Ekonomi
  • Finansial
  • Tekno
  • Lifestyle
No Result
View All Result
Jiexpo.co.id
No Result
View All Result
Home Market

Fenomena Baru di Inggris, Bank Ramai Tukar Aset Berisiko Menjadi Uang Tunai

by Herz Wijaya
September 3, 2026
in Market
0
Fenomena Baru di Inggris, Bank Ramai Tukar Aset Berisiko Menjadi Uang Tunai
491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bank-bank di Inggris semakin berani menggunakan aset kredit berisiko sebagai jaminan untuk mendapatkan dana dari Bank of England (BoE). Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena ini terlihat dari data yang dikumpulkan, di mana jumlah aset berisiko yang dijaminkan mencapai angka yang mencolok.

Dengan meningkatnya angka ini, bank-bank Inggris menjaminkan aset dengan kategori risiko tertinggi, yang dikenal sebagai Level C, dengan total nilai mencapai £1,9 miliar. Aset-aset ini digunakan untuk mengajukan pinjaman dari BoE dengan tenor selama enam bulan.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai tersebut adalah yang tertinggi sejak Maret 2020, dan meningkat hampir tiga kali lipat dalam seminggu terakhir. Kini, BoE memiliki total sekitar £17,8 miliar aset Level C sebagai jaminan melalui fasilitas Indexed Long-Term Repo (ILTR).

Aset yang dijaminkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan setahun lalu, yang tercatat sekitar £8,7 miliar. Jika dibandingkan dengan kondisi di pertengahan 2024, angka ini juga jauh lebih tinggi, di mana jumlah aset berisiko masih berada di bawah £1 miliar.

Permohonan Uang Tunai dari Bank Sentral

Untuk memahami situasi ini lebih lanjut, perlu digaris bawahi bahwa bank memerlukan likuiditas untuk menjalankan fungsi operasionalnya. Salah satu cara untuk memperoleh likuiditas adalah dengan meminjam dari bank sentral, dengan imbalan menyerahkan aset sebagai jaminan.

Dalam konteks ini, bank-bank tidak hanya menyerahkan aset berkualitas tinggi, tetapi juga aset dengan risiko yang lebih tinggi. Ini mencakup berbagai bentuk kredit, mulai dari surat utang yang dibayarkan dengan kartu kredit hingga pinjaman kendaraan dan peminjaman rumah.

BoE, dalam hal ini, kategorisasi aset yang diterimanya berdasarkan tingkat risikonya. Level C adalah kategori risiko tertinggi yang mencerminkan potensi kerugian besar. Mengingat risiko ini, bank-bank menyerahkan aset tersebut untuk mendapatkan uang tunai.

Pinjaman yang diberikan akan berakhir setelah jangka waktu yang ditentukan, dan bank dapat mengambil kembali asetnya jika memenuhi kewajiban pinjaman. Proses ini menjadi semakin krusial saat kondisi ekonomi berfluktuasi.

Untuk memitigasi risiko kerugian, BoE mengenakan bunga yang lebih tinggi serta menetapkan haircut lebih besar pada aset yang berisiko. Haircut ini berarti BoE tidak memberikan pinjaman sebesar nilai penuh aset yang dijaminkan, melainkan kurang dari nilai tersebut sebagai langkah pencegahan.

Kekhawatiran Terkait Penggunaan Aset Berisiko

Peningkatan signifikan dalam penggunaan aset berisiko sebagai jaminan menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pengamat keuangan. Munculnya trend ini menunjukkan bahwa BoE semakin terpapar pada risiko dari aset yang sulit diperdagangkan di pasar ketika situasi ekonomi memburuk.

Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa BoE menerima produk-produk pinjaman yang dilarang sebagai jaminan oleh Bank Sentral Eropa (ECB). Di antara produk tersebut termasuk surat berharga yang mengemas pembayaran KPR yang sebelumnya telah dijual kepada investor.

Proses yang dikenal dengan sekuritisasi ini menggabungkan berbagai pinjaman menjadi satu produk investasi yang dapat diperdagangkan. Meskipun dapat memberikan likuiditas lebih, praktik ini berpotensi memperbesar risiko sistemik, seperti yang terjadi pada krisis keuangan global 2008.

Namun, perlu dicatat bahwa situasi saat ini tidak mengindikasikan bahwa Inggris sedang mengalami krisis serupa. Kekhawatiran saat ini lebih menyangkut dampak jangka panjang jika bank-bank menjadi terlalu bergantung pada aset berisiko untuk memperolehi dana dari bank sentral.

Menurut pendapat beberapa ahli, penggunaan aset Level C memang ada alasan tertentu, meskipun jika penggunaannya menjadi terlalu berlebihan, maka ini bisa merangsang praktik pemberian kredit yang lebih berisiko di masa depan.

Tanda-tanda Penurunan di Pasar Kredit Swasta

Peningkatan penggunaan fasilitas BoE dapat diartikan bahwa bank-bank mulai kesulitan menjual aset tersebut kepada investor di pasar swasta. Hal ini menciptakan pertanyaan besar tentang kehandalan pasar di luar BoE untuk aset-aset berisiko tersebut.

Beberapa analis mencatat bahwa pasar untuk aset-aset ini tidak seaktif sebelumnya, seiring dengan penurunan minat investor terhadap kredit di sektor swasta. Ini menarik perhatian, mengingat industri pembiayaan swasta global saat ini telah tumbuh pesat hingga mencapai nilai sekitar US$3,5 triliun.

Pembiayaan swasta sendiri adalah praktek dalam pemberian pinjaman langsung kepada perusahaan oleh lembaga keuangan non-bank maupun perusahaan investasi. Dengan kata lain, perusahaan dapat memperoleh pinjaman tidak hanya dari bank, tetapi juga dari investor.

Industri pembiayaan swasta berkembang karena menawarkan imbal hasil menarik bagi investor. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini telah menghadapi pengawasan lebih besar dari regulator karena keluhan terkait masalah kredit dan potensi kerugian yang muncul.

Langkah Tanggap Bank of England

Menanggapi situasi ini, Bank of England menjelaskan bahwa program ILTR dirancang untuk accommodates bank-bank dalam menggunakan beragam aset sebagai jaminan dalam memperoleh dana. Keberadaan sistem manajemen risiko yang dinyatakan BoE bertujuan untuk melindungi diri dari kemungkinan kerugian.

Juru bicara BoE menegaskan, “Fasilitas kami terbuka untuk digunakan, dan kami menyambut setiap peningkatan dalam penggunaannya.” Hal ini menunjukkan bahwa BoE berkomitmen untuk menyesuaikan kerangka kerja agar tetap relevan dengan batas-batas risiko yang ditentukan.

Walaupun meningkatnya penggunaan aset Level C tidak secara otomatis menandakan krisis perbankan, hal ini tetap menjadi perhatian, terutama karena peningkatan penggunaan ini menunjukkan ketergantungan bank-bank Inggris pada aset kredit yang lebih berisiko untuk memperoleh likuiditas. Aset-aset ini berpotensi menjadi isu jika pasar mengalami tekanan di kemudian hari.

Tags: AsetBankBaruBerisikoFenomenaInggrisMenjadiRamaiTukarTunaiUang
Share196Tweet123
Herz Wijaya

Herz Wijaya

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Data Terbaru Korban dan Kerusakan Akibat Gempa di Palu

Data Terbaru Korban dan Kerusakan Akibat Gempa di Palu

June 18, 2026
Kata Pengusaha Suku Cadang Tentang Proyek Mobil Nasional Probowo

Kata Pengusaha Suku Cadang Tentang Proyek Mobil Nasional Probowo

July 12, 2026
Hasto Soroti Tokoh Prakasa Kitabuming Solo dalam Ghost in the Cell

Hasto Soroti Tokoh Prakasa Kitabuming Solo dalam Ghost in the Cell

June 7, 2026
RSUD Tingkatkan Kelas, Pasien Daerah Terpencil Hemat Transportasi hingga Rp10 Juta

RSUD Tingkatkan Kelas, Pasien Daerah Terpencil Hemat Transportasi hingga Rp10 Juta

0
Bank Mandiri Sepakat Bagikan Dividen Rp44 Triliun

Bank Mandiri Sepakat Bagikan Dividen Rp44 Triliun

0
KPK Selidiki Anggota DPR yang Merupakan Suami Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

KPK Selidiki Anggota DPR yang Merupakan Suami Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

0
IHSG Naik Turun, Pesan untuk Investor dari OJK

IHSG Naik Turun, Pesan untuk Investor dari OJK

October 14, 2026
Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan Selama Enam Tahun Terakhir

Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan Selama Enam Tahun Terakhir

October 14, 2026
OJK Peringatkan Investor Terhadap Penipuan Saham Menggunakan Deepfake dan AI

OJK Peringatkan Investor Terhadap Penipuan Saham Menggunakan Deepfake dan AI

October 14, 2026
Jiexpo.co.id

Copyright © 2026 Jiexpo.co.id.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home

Copyright © 2026 Jiexpo.co.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In