Harga emas telah mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan penutupan terbaru mencapai US$4.960,39 per troy ons. Hal ini menegaskan kembali posisi emas sebagai aset yang stabil dan dapat diandalkan, terlepas dari ketidakpastian yang melanda perekonomian global.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketika suku bunga riil meningkat, harga emas cenderung turun. Anehnya, sejak tahun 2022, hubungan ini seakan terputus, dan harga emas justru mencapai rekor tertinggi meskipun suku bunga tetap tinggi.
Apa yang menyebabkan fenomena ini? Dasar ekonomi mengajarkan bahwa saat suku bunga naik, maka harga emas seyogianya mengalami penurunan. Mengingat emas tidak memberikan bunga, mengapa investor lebih memilih emas dibandingkan instrumen lain yang lebih menguntungkan?
Pada tahun 2026, skenario ini menjadi sangat menarik. Meskipun suku bunga AS tetap tinggi dan dolar menunjukkan kekuatan, harga emas terus melonjak mencapai puncak baru. Analis pasar pun menciptakan istilah baru, yaitu “The Great Decoupling,” untuk menggambarkan fenomena ini.
Kita kini menyaksikan hilangnya korelasi antara suku bunga riil AS dan harga emas. Ini lebih dari sekadar kejadian sementara, melainkan sebuah perubahan besar dalam struktur pasar, di mana kita beralih dari pasar yang bergantung pada spekulan menuju pasar yang lebih sesuai dengan kedaulatan ekonomi.
Artikel ini berfokus pada alasan mengapa target harga emas di kisaran $5.700 menjadi realistis, serta bagaimana trader dapat menyesuaikan strategi mereka dalam menghadapi kenyataan baru ini.
Memahami Perubahan Dinamika Pasar dalam Emas
Dalam pasar yang biasa, harga suatu barang ditentukan oleh siapa yang membeli paling banyak. Pada dekade 2010-an, investor ETF dari negara-negara Barat menjadi pembeli utama emas. Mereka cenderung sensitif terhadap perubahan suku bunga; saat The Fed menaikkan bunga, mereka menjual emas untuk berpindah ke investasi lain.
Namun, saat ini situasinya berbeda. Data terbaru menunjukkan bahwa walaupun investor ETF di negara-negara Barat menjual emas, harga emas tetap melambung tinggi. Siapa yang menyerap semua tekanan jual tersebut?
Jawabannya terletak pada tindakan bank sentral di negara-negara Timur, yang telah membeli emas dengan motivasi yang sama sekali berbeda. Mereka tidak terlalu peduli terhadap bunga tinggi, melainkan mengutamakan keamanan dan diversifikasi geopolitik, menjadikan permintaan mereka relatif tidak sensitif terhadap fluktuasi harga.
Dalam dua setengah tahun terakhir, bank sentral ini telah membeli lebih dari 2.300 ton emas. Ini adalah kekuatan beli yang sangat besar, cukup untuk menutupi semua tekanan jual yang datang dari pasar ETF. Fenomena ini telah menciptakan apa yang disebut sebagai kekuatan terbesar dalam pasar bullish emas saat ini.
Pembezaan Jenis Pasar Bull dalam Trading Emas
Bagi para investor, penting untuk memahami dua tipe pasar bullish. Pertama adalah pasar siklis, di mana harga bergerak naik dan turun berdasarkan siklus bisnis yang berkelanjutan, biasanya didorong oleh inflasi atau suku bunga yang rendah.
Kedua adalah pasar sekuler, yang berlangsung dalam jangka panjang dan didorong oleh perubahan struktural dalam fundamental ekonomi. Contoh paling jelasnya terlihat pada saham AS antara tahun 2009-2021, dan harga emas antara tahun 1971-1980.
Saat ini, kita berada dalam fase pasar bullish sekuler untuk emas. Ini bukan akibat inflasi jangka pendek, melainkan kehilangan kepercayaan pada utang AS, sanksi terhadap Rusia, dan kebangkitan sistem perdagangan non-dolar oleh kelompok BRICS.
Di pasar sekuler, indikator overbought sering kali tetap berada di zona jenuh beli untuk waktu yang lama. Menggunakan strategi mean reversion biasanya berisiko dan malah bisa merugikan. Sebaliknya, strategi trend following dengan membeli pada saat harga turun (buy on dip) cenderung lebih efektif.
Menurut proyek Morgan Stanley, harga emas bisa mencapai $5.700 pada tahun 2026. Meskipun terdengar menakjubkan, jika kita mempertimbangkan inflasi moneter, harga emas saat ini masih jauh di bawah puncak yang dicapai pada tahun 1980.
Strategi Trading untuk Menghadapi Perubahan Pasar
Dengan tidak adanya korelasi yang dapat diandalkan antara suku bunga dan harga emas saat ini, investor perlu mengandalkan analisis harga dan data arus dana untuk membuat keputusan investasi. Ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan platform trading untuk menganalisis pergerakan pasar secara lebih detail.
Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah menggunakan indikator moving averages. Pada grafik mingguan, pasang indikator EMA 50 dan EMA 200 untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai tren. Dalam konteks pasar bullish sekuler, harga biasanya tidak akan jatuh di bawah EMA 50.
Penting juga untuk tidak melawan “Central Bank Put”. Sama seperti pasar saham yang memiliki “Fed Put”, pasar emas kini memiliki mekanisme yang sama di mana bank sentral bersikap agresif dalam membeli emas saat harga turun, menciptakan lantai harga yang kuat.
Investor perlu waspada dan tidak melakukan short selling secara agresif hanya karena The Fed bersikap hawkish. Narasi mengenai suku bunga kini tak bisa dianggap sebagai patokan yang relevan.
Jika harga emas terus naik, perusahaan tambang akan mencatatkan laba yang tinggi, namun harga saham mereka kerap tertinggal. Ini membuka peluang arbitrase yang menarik bagi investor yang cerdas.
Menavigasi Peluang di Era Pasar yang Berubah
Sebagai investor, Anda memiliki akses ke berbagai alat untuk mengoptimalkan portofolio. Menggunakan aplikasi trading, Anda bisa menemukan saham tambang dengan nilai yang baik dan momentum yang kuat. Gunakan menu smart screeners untuk memfilter saham-saham yang menarik.
Terlepas dari itu, Bitcoin juga patut diperhatikan sebagai aset dengan volatilitas tinggi yang bisa memberikan keuntungan tambahan ketika pasar emas bergerak. Bitcoin sering berfungsi sebagai “emas yang terleverage,” terkadang bergerak lebih cepat daripada emas itu sendiri.
Pada akhirnya, manajemen likuiditas menjadi sangat penting di era yang tidak menentu ini. Selalu pastikan bahwa Anda memiliki dana yang siap digunakan untuk mengambil keuntungan dari peluang yang mungkin muncul dengan cepat.
Dalam konteks ini, tidak ada salahnya menyimpan keuangan dalam bentuk USD untuk mendapatkan yield yang menarik, sementara tetap berinvestasi dalam emas yang juga mengalami kenaikan harga. Ini adalah situasi yang jarang terjadi dan memberikan keuntungan ganda bagi investor.
Seiring dengan perkembangan pasar, penting untuk beradaptasi dan tidak terjebak dalam paradigma lama yang mungkin tidak lagi relevan. Pasar emas dan alat investasi lainnya kini menjadi sangat dinamis, menggambarkan perubahan yang luar biasa dalam dunia keuangan global.
Sebagai seorang investor, Anda sekarang memiliki keuntungan untuk meraih potensi pertumbuhan yang lebih besar sekaligus menjaga kestabilan melalui investasi yang bijak. Baik dalam bentuk emas, saham tambang, atau strategi likuiditas yang cermat, peluang ada di tangan Anda untuk dikelola dengan baik.




