Jenazah Meriyati Roeslani Hoegeng tiba di rumah duka yang terletak di Perumahan Pesona Khayangan, Sukmajaya, Depok pada Selasa sore. Proses kedatangan jenazah berlangsung dengan penuh penghormatan, diiringi oleh kehadiran pejabat kepolisian yang memberikan dukungan kepada keluarga.
Setibanya di lokasi, jenazah diangkat dengan hati-hati dari mobil ambulans dan dibawa masuk ke dalam rumah. Anaknya, Aditya S Hoegeng, hadir mendampingi ibunya di setiap langkah menuju rumah duka, menunjukkan rasa kehilangan yang mendalam.
Aditya mengungkapkan bahwa sang ibu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Polri Kramat Jati sekitar pukul 13.20 WIB. Momen tersebut menjadi titik hitam dalam kehidupan keluarga yang tak terbayangkan sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa Meriyati telah menjalani perawatan intensif karena kondisi kesehatan yang semakin menurun. Perawatan pertama dilakukan pada bulan Oktober 2025 dan berlangsung selama satu minggu, tetapi kondisi belum sepenuhnya stabil setelahnya.
Kondisi Kesehatan yang Menurun dan Proses Perawatan
Menurut Aditya, seminggu setelah perawatan pertama, ibunya diizinkan pulang tetapi tidak lama setelah itu Meriyati mulai kesulitan untuk makan. Keluarga merasa cemas dengan perubahan dramatis tersebut dan kembali membawa Meriyati ke rumah sakit untuk mendapatkan perhatian medis lebih lanjut.
Perawatan kedua dimulai pada tanggal 26 Januari 2026, di mana kondisi sang ibu semakin memburuk. Pengalaman ini menjadi perjalanan emosional bagi keluarga, yang sangat menyayangi Meriyati.
Keluarga menjalani situasi sulit ini dengan penuh harapan meskipun kenyataan semakin menyedihkan. Pada setiap kunjungan ke rumah sakit, tampak jelas betapa keluarga berupaya memberikan dukungan terbaik bagi Meriyati, yang kini berusia 100 tahun.
Selama perawatan intensif yang kedua, berbagai upaya dilakukan oleh tim medis untuk merawat kondisi Meriyati. Namun, keadaan tidak kunjung membaik, menimbulkan rasa prihatin di hati seluruh anggota keluarga.
Dampak Emosional Terhadap Keluarga dan Sahabat
Kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat berlindung bagi keluarga memberikan dampak emosional yang mendalam. Meriyati bukan hanya seorang ibu bagi Aditya, melainkan juga merupakan sosok yang penuh kenangan dan pelajaran bagi banyak orang.
Aditya dan keluarga berusaha mengenang semua momen berharga yang telah mereka lalui bersama Meriyati. Momen-momen tersebut menciptakan ikatan yang tak akan pernah pudar meski waktu terus berlalu.
Banyak sahabat dan kerabat yang turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran mereka menunjukkan betapa besar pengaruh Meriyati dalam kehidupan orang lain, di luar lingkaran keluarga.
Di tengah rasa duka, keluarga menyadari bahwa Meriyati meninggalkan warisan dan jejak yang abadi dalam hidup mereka. Nilai-nilai yang diajarkan dan kenangan indah akan terus diingat dan dijadikan inspirasi bagi generasi berikutnya.
Prosesi Pemakaman dan Kenangan Abadi
Setelah prosesi di rumah duka, jenazah Meriyati direncanakan akan dimakamkan di tempat yang telah ditentukan. Keluarga ingin memastikan bahwa pemakaman dilakukan dengan cara yang sesuai, sebagai penghormatan terakhir bagi sosok yang mereka cintai.
Upacara pemakaman akan dihadiri oleh keluarga, sahabat, dan kerabat dekat lainnya. Mereka semua akan berkumpul untuk memberikan penghormatan yang layak bagi Meriyati, mengenang semua tawa dan air mata yang telah dibagikan selama ini.
Dalam momen pemakaman, setiap anggota keluarga akan diberi kesempatan untuk berbagi kenangan dan ucapan perpisahan. Hal ini menjadi kesempatan untuk merayakan kehidupan Meriyati dan semua kontribusi yang telah diberikan kepada mereka yang mengenalnya.
Keluarga juga berencana untuk mengadakan sebuah acara untuk memperingati kehidupan Meriyati di masa mendatang. Dengan cara ini, mereka ingin menjaga ingatan tentangnya tetap hidup, serta menyebarluaskan nilai-nilai yang telah diajarkannya kepada banyak orang.




