
Di tengah bencana yang melanda, Abdul mencatat peningkatan signifikan jumlah pengungsi di daerah terdampak. Dari awalnya 100 kepala keluarga, kini melonjak menjadi 160 akibat banjir yang kembali menerjang wilayah tersebut pada 1 Januari 2025.
Para pengungsi kini tersebar di berbagai tempat, seperti musala, rumah keluarga, dan fasilitas pemerintah. Banjir bandang ini telah merusak banyak rumah, terutama yang berada di zona merah di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang.
“Terdapat empat rumah, tiga warung, dan dua penginapan yang mengalami kerusakan parah akibat bencana ini,” ungkap Abdul. Kejadian ini menjadi bukti nyata dari ancaman banjir yang terus mengintai masyarakat Pasar Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya.
Frekuensi Banjir dan Dampaknya di Wilayah Tanjung Raya
Abdul mengungkapkan bahwa banjir bandang bukanlah kejadian baru bagi wilayah ini. Sudah beberapa kali bencana serupa melanda Pasar Maninjau, terutama akibat meluapnya Sungai Muaro Pisang.
Ketidakstabilan cuaca dan pengelolaan lingkungan yang kurang baik menjadi faktor pemicu meningkatnya frekuensi banjir. Masyarakat setempat pun mulai khawatir jika bencana ini terus berlanjut tanpa ada langkah mitigasi yang tepat.
Pada malam tanggal 31 Desember 2025, longsor terjadi di area Kelok 25, yang semakin memperburuk situasi. Tebing jalan yang longsor ini mengakibatkan aliran sungai tertutup material dan pada akhirnya tersumbat, memicu bangunan di sekitarnya rusak parah.
Penyebab Banjir dan Peran Lingkungan
Longsor di Jorong Kuo Tigo Koto, Nagari Matua Mudik adalah fenomena yang sudah beberapa kali terjadi di kawasan tersebut. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga ekosistem lingkungan agar tidak semakin parah.
Banjir ini membawa dampak lebih besar dari sekadar kerusakan infrastruktur. Material lumpur dan bebatuan yang dibawa air juga mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari, seperti jalur transportasi dan ekonomi lokal.
Abdul menggambarkan bagaimana air sungai mencari aliran baru ke arah Simpang Maninjau, membawa serta berbagai material yang merusak. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan aliran sungai bukan hanya merusak rumah, tetapi juga jalan yang menghubungkan dua wilayah penting.
Upaya Penanganan Banjir dan Pemulihan Pasca-Bencana
Setelah bencana, pemerintah dan tim relawan bekerja sama untuk membersihkan material longsor. Alat berat dikerahkan pada pagi hari 2 Januari 2026 untuk mengatasi penumpukan material di badan jalan.
Proses pemulihan ini sangat penting agar jalur transportasi kembali normal. Jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung dan Bukittinggi sepanjang 30 meter dan tinggi satu meter atas tanah terputus total akibat dampak banjir.
Selain itu, pantauan dari Kelok 9 menuju Kelok 25 menunjukkan bahwa tidak ada lagi material longsor yang menutupi aliran Sungai Muaro Pisang. Ini menjadi langkah awal pemulihan yang baik walaupun tantangan masih banyak di depan.



