Jakarta menjadi perhatian utama ketika sejumlah pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengungkapkan pendapat mereka tentang target return on assets (RoA) yang ditetapkan sebesar 7% oleh Presiden Prabowo Subianto. Target ini merupakan tantangan signifikan bagi banyak bank di Indonesia, yang harus menyusun strategi untuk mencapainya dalam waktu dekat.
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Anggoro Eko Cahyo, menyebut bahwa pertanyaan spesifik mengenai langkah-langkah dalam mencapai target RoA tersebut lebih tepat diarahkan kepada Danantara. Menurutnya, kolaborasi yang baik antara semua pihak akan menjadi kunci dalam mencapai target ini.
Sejalan dengan pendapat Anggoro, Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menekankan perlunya Danantara untuk menjelaskan rencana bisnis demi mencapai target yang ditetapkan. Hal ini penting agar komunikasi dan koordinasi antar bank dapat terjalin dengan baik.
Peranan Danantara dalam Mencapai Target RoA 7%
Danantara berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah dan BUMN, termasuk perbankan, dalam menetapkan dan menghimpun strategi. Keberadaan Danantara sangat krusial, karena tanpa arahan yang jelas, upaya untuk mencapai target RoA bisa terhambat. Misalnya, dengan adanya kebijakan yang tepat, bank dapat lebih efisien dalam mengelola aset dan meningkatkan profitabilitas.
Riduan juga menjelaskan bahwa pendekatan yang diambil oleh bank tidak hanya berfokus pada RoA. “Bank memiliki pendekatan yang lebih relevan dengan return on equity (RoE) karena dalam neraca bank, ada dana pihak ketiga yang perlu diperhitungkan secara cermat,” ujarnya. Dengan memahami nuansa ini, bank dapat menjadi lebih adaptif dalam menghadapi tantangan.
Namun, Riduan menyatakan komitmennya untuk terus berusaha meningkatkan RoA, meskipun saat ini angka tersebut baru mencapai 3%. Upaya ini menunjukkan bahwa meskipun tantangannya besar, ada determinasi yang kuat di antara pimpinan BUMN untuk mencapai target yang ambisius ini.
Strategi Peningkatan RoA oleh Bank-Bank BUMN
Hery Gunardi, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BBRI), mengungkapkan bahwa BRI juga berusaha seoptimal mungkin untuk mendongkrak RoA sesuai harapan pemerintah. Dia menekankan pentingnya merumuskan strategi yang tepat agar BRI bisa lebih bersaing di pasar perbankan nasional.
Dengan RoA yang saat ini berada di angka sekitar 3%, Hery bertekad untuk mengejar target tersebut. Ia percaya bahwa dengan keterlibatan dan dukungan semua pihak, target 7% bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
Selain BRI, Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BBTN) juga menyatakan kesiapan untuk bekerja keras mengejar target tersebut. Ini memberikan gambaran bahwa semua bank BUMN bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, sehingga memperkuat posisi mereka di industri perbankan.
Tantangan yang Dihadapi BUMN dalam Mencapai Target RoA
Meski ada komitmen yang kuat dari pimpinan BUMN, tantangan dalam mencapai target RoA tetap ada. Persaingan di industri perbankan semakin ketat, dan setiap bank harus menemukan cara untuk menonjol di antara rekan-rekannya. Selain itu, kondisi ekonomi makro yang berfluktuasi menambah kompleksitas dalam perencanaan.
Bank harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan pasar yang berubah, termasuk menghadapi regulasi baru yang mungkin berdampak pada operasi mereka. Respons yang cepat terhadap perubahan ini akan sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai target yang sudah ditetapkan.
Selanjutnya, tantangan pengelolaan sumber daya manusia menjadi perhatian dalam meningkatkan RoA. Bank perlu memastikan bahwa mereka memiliki tim yang kompeten dan berpengalaman untuk mengejar penargetan yang ambisius. Investasi dalam pengembangan keterampilan karyawan juga harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.




