Investasi saham telah menjadi bagian penting dari sejarah keuangan, dengan akar yang menjangkau ratusan tahun silam. Sejak saat itu, berbagai lapisan masyarakat telah berpartisipasi dalam aktivitas ini, menunjukkan bahwa investasi bukan hanya milik kalangan elit.
Pada bulan Agustus tahun 1602, Kongsi Hindia Belanda, yang dikenal sebagai Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), mulai menjual sahamnya kepada publik. Inisiatif ini menandai lahirnya konsep investasi modern yang kita kenal sebagai penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Setelah IPO diumumkan, antusiasme masyarakat terlihat jelas saat banyak orang berbondong-bondong datang ke Bursa Efek Amsterdam. Laporan dari Lodewijk Petram dalam “The World’s First Stock Exchange” mencatat kehadiran 1.143 investor yang berinvestasi pada modal awal VOC.
Kisah Neeltgen Cornelis: Investor Pionir di Era Awal Saham
Di tengah keramaian investor, terdapat kisah menarik tentang Neeltgen Cornelis, seorang asisten rumah tangga yang terinspirasi untuk berinvestasi. Melihat majikannya, Dirck van OS yang merupakan Direktur VOC, Neeltgen merasakan ketertarikan yang kuat untuk menjadi bagian dari komunitas investasi.
Saat itu, pembelian saham dilakukan secara manual dan dicatat di atas kertas. Hal ini menjadikan rumah Dirck van OS sebagai tempat yang ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin berinvestasi saat IPO tersebut berlangsung.
Namun, bagi Neeltgen, keputusan untuk berinvestasi tidaklah mudah. Ia bingung mencari sumber dana, karena penghasilannya sebagai pembantu rumah tangga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk berinvestasi.
Dilema Seorang Investor Awal: Antara Ragu dan Berani
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Neeltgen akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah berani. Ia menyadari betapa besar kemungkinan ia akan menyesal jika tidak mengikuti kesempatan sekali seumur hidup ini dan, pada akhirnya, ia mengeluarkan uang tabungannya.
Dengan sisa tabungan yang dimilikinya, Neeltgen akhirnya memutuskan untuk membeli saham VOC seharga 100 gulden. Meskipun jumlah ini kecil dibandingkan dengan investor lainnya, keberaniannya menjadi sorotan dalam sejarah investasi awal.
Berkat keputusan berani itu, Neeltgen mulai mendapatkan keuntungan dari investasinya. Menurut laporan Petram, satu tahun setelah membeli saham, ia menjual kepemilikannya pada bulan Oktober 1603.
Risiko dan Peluang: Pelajaran dari Saham VOC
Meskipun Neeltgen meraih keuntungan, para ahli keuangan percaya bahwa jika ia mempertahankan saham tersebut, nilai investasinya bisa melambung jauh lebih tinggi. Dengan 100 gulden yang dimiliki, Neeltgen berpotensi mendapatkan ribuan gulden jika terus menahan sahamnya di tangan.
Investasi saham pada masa itu menawarkan tidak hanya keuntungan finansial, tetapi juga pengalaman berharga. Para pemegang saham bahkan berkesempatan mendapatkan rempah-rempah sebagai bentuk dividen, yang menarik banyak orang untuk berinvestasi meskipun dengan berbagai latar belakang.
Melihat sejarah ini, dapat dilihat betapa pentingnya untuk memahami risiko dan peluang sebelum berinvestasi. Neeltgen Cornelis adalah contoh nyata bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja, dan keberanian untuk mengambil risiko bisa berbuah manis.




