Papan “Disewakan” dan “Tutup” semakin mudah ditemukan di berbagai sudut Singapura. Di tengah naiknya biaya hidup dan melemahnya konsumsi, sektor kuliner di kota ini menghadapi tantangan yang sangat serius.
Restoran-restoran ternama yang sudah lama berdiri kini terpaksa menutup usaha mereka. Fenomena penutupan ini jauh lebih dari sekadar siklus musiman, mengingat data menunjukkan lebih dari 3.000 bisnis makanan dan minuman tutup hanya dalam setahun terakhir.
Sedaratan ini mencatat krisis terburuk yang dihadapi sektor F&B (Food and Beverage) Singapura dalam hampir dua dekade. Di antara restoran yang terpaksa berhenti beroperasi, terdapat nama-nama legendaris yang telah berkontribusi pada identitas kuliner kota ini selama bertahun-tahun.
Krisis Sektor Kuliner Singapura di Tengah Cengkeraman Ekonomi
Pada tahun lalu, sekitar 250 restoran tutup setiap bulan, angka tertinggi dalam dua puluh tahun terakhir. Tidak sedikit di antara restoran yang terpaksa berhenti beroperasi adalah usaha keluarga yang telah ada sejak lama.
Salah satu yang terkena dampak adalah Ka-Soh, restoran Kanton berusia 86 tahun yang sangat terkenal. Pada akhir September, mereka menghidangkan mangkuk sup ikan terakhirnya, menandakan akhir dari sebuah era.
Pemilik Ka-Soh, Cedric Tang, mengungkapkan rasa sakit yang dirasakan setelah bertahun-tahun berjuang. Meskipun mereka telah bekerja keras, tekanan biaya operasional dan sewa membuat mereka tidak bisa lagi bertahan.
Dampak Biaya Sewa yang Signifikan terhadap Usaha
Kenaikan biaya sewa menjadi salah satu pukulan terbesar bagi banyak pemilik usaha. Menurut laporan, banyak penyewa melaporkan kenaikan sewa antara 20% hingga 49%, situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dua dekade terakhir.
Minat investor yang tinggi terhadap properti komersial sebagai aset investasi ikut memperburuk situasi. Tekanan ini bersamaan dengan meningkatnya biaya konstruksi dan pemeliharaan menjadikan banyak pemilik restoran terjepit.
Banyak orang mengklaim bahwa para pemilik properti bersikap serakah tanpa memahami komponen biaya lainnya yang dihadapi oleh penyewa. Hal ini menunjukkan bahwa besaran sewa bukan satu-satunya faktor yang membebani mereka.
Kesulitan dalam Mencari Tenaga Kerja dan Permintaan yang Menurun
Sementara itu, di restoran Burp Kitchen & Bar, masalah krisis tenaga kerja dan penurunan permintaan turut memperburuk keadaan. Dengan jumlah juru masak yang terbatas, restoran besar mampu menawarkan gaji yang lebih tinggi untuk menarik staf.
Asosiasi Restoran Singapura sudah memperingatkan akan krisis tenaga kerja sejak Maret lalu. Namun, pemerintah berpendapat bahwa minat yang berlebihan terhadap penyediaan restoran salah satu faktor pemicu di balik situasi ini.
Tahun lalu, Singapura mencatat hampir 23.600 gerai makanan, meningkat dari 17.200 pada tahun 2016. Meskipun banyak restoran tutup, ada juga pasar baru yang tumbuh dan berkembang, menunjukkan dinamika yang kompleks dalam industri ini.
Perubahan Perilaku Konsumen dan Adaptasi Melalui Media Sosial
Data terkini menunjukkan bahwa banyak konsumen, terutama generasi muda, lebih sering mencari informasi tentang restoran baru melalui media sosial. Hal ini kemudian menjadi peluang bagi pemilik usaha untuk beradaptasi dan memperluas jangkauan mereka.
Christopher Lim, pemilik Marie’s Lapis Cafe, mencairkan tabungan pensiun dan bekerja sama dengan konsultan digital untuk memanfaatkan media sosial demi mempertahankan kafe mereka. Strategi pemasaran digital yang dilakukan membuahkan hasil dalam waktu singkat.
Meskipun ada peningkatan kunjungan secara online, tantangan struktural tetap ada. Banyak pemilik usaha yang berjuang untuk mengatasi masalah yang mengakar jauh lebih dalam daripada hanya sekadar pemasaran.
Langkah-Langkah Adaptasi untuk Survive di Tengah Krisis
Beberapa anggota parlemen mendorong peningkatan kuota tenaga kerja asing untuk membantu pelaku UMKM menghadapi tantangan ini. Upaya ini dianggap perlu untuk memperbaiki situasi yang cukup parah di sektor kuliner saat ini.
Beberapa usaha, seperti Keng Eng Kee Seafood, mulai menggunakan sistem manajemen pelanggan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan efisiensi bisnis. Inisiatif ini membantu mereka melakukan penyesuaian dan mereduksi tingkat pergantian staf yang begitu tinggi.
SGTUFF juga aktif melobi untuk mengatur perpanjangan sewa dan menciptakan ekosistem yang lebih adil bagi bisnis kecil. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi usaha yang baru dibangun untuk terus bertahan meskipun menghadapi kenaikan tekanan biaya.




