Jakarta menghadapi kemungkinan tantangan besar pada tahun 2026, terutama dalam hal kestabilan pasar keuangan. Ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian global dapat mengakibatkan arus keluar dana asing yang signifikan, berpotensi memperlemah nilai tukar rupiah.
Menurut Deni Friawan, seorang peneliti senior di sebuah lembaga ekonomi, pasar keuangan Indonesia akan terpengaruh oleh volatilitas yang diakibatkan oleh faktor eksternal. Ketika investor asing mulai menarik dananya, dampaknya akan terasa pada perekonomian domestik.
Dia menambahkan bahwa situasi ini mirip dengan apa yang terjadi pada tahun sebelumnya, ketika Indonesia mengalami gelombang besar arus keluar modal. Kejadian tersebut berimplikasi besar pada nilai tukar dan biaya pinjaman obligasi pemerintah.
Dampak Ketidakpastian Global Terhadap Arus Modal Indonesia
Kondisi ekonomi global yang diprediksi akan melambat dapat menjadi faktor pendorong bagi arus keluar investasi asing di Indonesia. Dengan mesin pertumbuhan yang terhambat, seperti yang terlihat di China dan Amerika Serikat, ketidakpastian ini memberikan dampak yang luas.
Misalnya, China yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan dunia kini mengalami deflasi. Meskipun data resmi menunjukkan angka 5%, banyak kalangan meragukan keakuratan statistik tersebut, dengan perkiraan yang lebih realistis berkisar di angka 2%.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi kendala besar terkait utang publik dan defisit anggaran yang mengganggu stabilitas ekonominya. Tekanan inflasi yang meningkat di AS berdampak luas dan membuat investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Konflik Geopolitik dan Dampaknya Terhadap Ekonomi Global
Ketegangan geopolitik, terutama antara Amerika Serikat dan Venezuela, menambah daftar risiko yang sudah ada. Penangkapan pemimpin Venezuela oleh pemimpin Amerika yang lalu dapat memicu instabilitas lebih lanjut dalam lanskap politik global.
Deni menekankan bahwa langkah-langkah agresif dari AS dalam konteks internasional dapat menciptakan ketidakpastian yang lebih besar. Hal ini berpotensi mempengaruhi arus investasi asing di banyak negara, termasuk Indonesia.
Dampak dari ketegangan ini juga tidak hanya menyangkut politik, tetapi juga dapat membentuk kebijakan ekonomi global yang lebih proteksionis, yang bisa berdampak negatif terhadap perdagangan internasional.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Implikasinya
Menurut analisis terbaru dari IMF, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan merosot menjadi 3,1% pada tahun 2026. Bahkan, lembaga lain seperti Bank Dunia dan OECD memprediksi angka ini lebih rendah lagi, yakni 2,4% dan 2,9%.
Proyeksi yang suram ini menunjukkan bahwa banyak negara, termasuk Indonesia, perlu bersiap menghadapi tantangan besar. Ketiga lembaga tersebut menggambarkan bahwa sistem perekonomian global akan menghadapi banyak hambatan yang menghambat pertumbuhan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, Indonesia harus memikirkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi situasi ini. Upaya untuk meningkatkan daya tarik investasi dan meminimalisir risiko yang ada perlu menjadi prioritas dalam kebijakan ekonomi saat ini.




