Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang melibatkan 2.000 peneliti telah menyelesaikan tugas penelitian di 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia setelah melakukan misi selama empat bulan. Dengan konsentrasi dari Sabang hingga Merauke, tim ini berhasil menyampaikan temuan riset mereka kembali ke Jakarta untuk dibahas lebih lanjut.
Anggota tim terdiri dari berbagai institusi pendidikan ternama di Indonesia, yang mencakup ITB, UGM, IPB, UI, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Diponegoro, serta beberapa perguruan tinggi negeri lainnya. Penelitian ini melibatkan berbagai latar belakang akademis, mulai dari guru besar hingga mahasiswa.
Komposisi tim terdiri dari 42 guru besar, 358 doktor, 846 sarjana, dan 754 mahasiswa, yang melakukan analisis terhadap potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan transmigrasi. Evaluasi terhadap kondisi infrastruktur dan organisasi ekonomi juga menjadi fokus utama penelitian.
Hasil Penelitian Mengungkap Potensi dan Tantangan di Kawasan Transmigrasi
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyambut baik hasil kerja TEP dalam acara Diseminasi Hasil Riset dan Rekomendasi Kebijakan di Jakarta. Ia menekankan pentingnya hasil riset ini dalam merumuskan kebijakan program transmigrasi yang lebih efektif di masa depan.
Menurut Viva, kolaborasi antara kementerian dan perguruan tinggi adalah bagian dari langkah transformasi transmigrasi yang sedang diupayakan. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Viva juga menjelaskan bahwa kehadiran peneliti tidak sekadar mengumpulkan data, tetapi untuk memahami kondisi riil di lapangan. Para peneliti menyajikan solusi konkret yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang ada.
Pentingnya Diseminasi Hasil Riset bagi Masyarakat
Viva Yoga menyampaikan bahwa diseminasi hasil riset sangat penting agar masyarakat di kawasan transmigrasi mendapatkan informasi yang akurat. Dengan adanya hasil penelitian, masyarakat dapat memahami potensi dan tantangan yang dihadapi, serta bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada.
Setiap lokasi penelitian memiliki karakteristik unik, yang tentunya menghadirkan tantangan tersendiri bagi tim dalam melaksanakan penelitian. Perbedaan ini mencakup aspek geografi, topografi, serta potensi ekonomi dan budaya yang ada di masing-masing wilayah.
Viva menegaskan bahwa meskipun banyak kendala yang dihadapi, kehadiran TEP di lapangan tetap memberikan kemajuan yang berarti bagi masyarakat. Riset yang dilakukan bukan hanya teori, tetapi tindakan yang memberikan dampak nyata.
Kerjasama Lintas Sektor dalam Pengembangan Kawasan Transmigrasi
Hasil penelitian yang berasal dari TEP akan digunakan oleh Kementerian Transmigrasi sebagai langkah selanjutnya dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Temuan-temuan ini juga akan dilaporkan kepada kementerian dan lembaga terkait lainnya, menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dalam pembangunan nasional.
Selama ini, Kementerian Transmigrasi sudah menjalin kerja sama yang baik dengan berbagai instansi seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Kesehatan. Sinergi ini sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama dalam menyediakan infrastruktur yang memadai bagi masyarakat migran.
Viva menambahkan bahwa di bawah kepemimpinan saat ini, fokus pemerintah adalah meningkatkan koordinasi dan integrasi antar kementerian. Hal ini untuk memastikan bahwa program yang dijalankan saling mendukung, terutama dalam upaya untuk memperkuat ekonomi di kawasan transmigrasi.
Semua usaha ini diharapkan tidak hanya sebatas angka dan laporan, tetapi menghasilkan kebijakan yang realistis dan efektif. Dengan begitu, masyarakat transmigrasi dapat merasakan langsung manfaatnya.
Viva Yoga pun berharap hasil riset tidak akan berhenti sebagai catatan akademis. Tempatkan temuan sebagai dasar untuk perumusan kebijakan baru di tahun 2026 dan seterusnya, agar setiap langkah yang diambil dapat membawa perubahan yang berkelanjutan.




