Darah tani Otong Wiranta mengalir dari ayahnya, seorang petani di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sejak kecil, Otong rajin menemani sang ayah pergi ke sawah, belajar banyak tentang pertanian dan cara mengelola lahan. Keberaniannya untuk terlibat langsung di lapangan sudah terlihat sejak usia dini, yang membentuk pandangannya tentang dunia pertanian.
Seiring waktu, Otong tidak hanya mengamati tetapi juga berperan aktif dalam setiap proses bertani. Sejak kecil, ia sudah terlibat dalam mencangkul tanah hingga menanam bibit padi, hal itu menjadi bagian dari pengalamannya yang berharga.
Meskipun menempuh pendidikan formal, Otong mengaku bahwa pengalaman di lapangan jauh lebih berharga. Perjalanannya di dunia pertanian membawanya pada sebuah kesadaran mendalam bahwa pertanian adalah tiang penyangga kehidupan banyak orang.
Transformasi Otong Menjadi Petani Modern
Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), Otong tidak langsung terjun ke dunia pertanian sebagai petani. Ia bekerja di perusahaan agrochemical, sambil melanjutkan studinya di Universitas Winaya Mukti. Perpaduan pendidikan formal dan pengalaman praktis di lapangan membentuk karakter serta pengetahuannya dalam bertani.
Pada tahun 2004, Otong memutuskan untuk mengambil keputusan berani, yakni kembali ke akar budayanya sebagai petani. Dengan modal yang diperolehnya dari kerja selama ini, ia berhasil membeli lahan seluas 4.000 meter persegi sebagai langkah awal untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Selama lebih dari dua dekade, Otong berfokus pada pertanian padi dan mendapatkan berbagai pengalaman berharga. Kini, di usia 55 tahun, ia telah memiliki lahan pertanian seluas lebih dari 2 hektare di Desa Sukamandijaya.
Otong menyadari bahwa usaha pertaniannya tidak akan berjalan dengan baik tanpa memahami berbagai aspek pendukung, seperti cara mengelola sumber daya dan memanfaatkan teknologi. Ia selalu berusaha untuk mengedukasi diri dan petani lainnya agar dapat meningkatkan produktivitas.
Ekspansi Usaha dan Pengembangan Bisnis Pertanian
Seiring dengan perjalanan bertaninya, Otong tidak hanya fokus pada budidaya padi. Dia juga mulai melebarkan sayap usaha ke sektor hilir, yang mencakup penyediaan pupuk, produksi benih, hingga penjualan beras. Pendekatan ini menjadikan usahanya lebih menguntungkan dan berkelanjutan.
“Keuntungan tidak hanya diperoleh dari budidaya padi, tetapi juga dari penyediaan sarana produksi,” ujar Otong dalam sebuah wawancara. Dengan mengembangkan bisnis di sektor hilir, ia mampu memperoleh keuntungan yang lebih besar dan berkelanjutan.
Para petani yang tergabung dalam kelompok tani di desanya juga mendapatkan manfaat dari keberhasilan Otong. Ia berperan aktif dalam membantu meningkatkan kesejahteraan petani lain melalui pendampingan dan pelatihan.
Dia mengatakan, tantangan dalam bertani semakin kompleks seiring waktu, dengan cuaca yang semakin tak menentu dan hama yang terus meningkat. Namun, Otong tidak pernah menyerah dan terus mencari solusi untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi di ladang.
Ketersediaan dan Pentingnya Pupuk dalam Pertanian
Ketersediaan pupuk menjadi salah satu aspek vital dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Di Subang, yang merupakan wilayah penghasil padi terbesar ketiga di Jawa Barat, pemupukan yang maksimal sangat diperlukan untuk menjamin pertumbuhan padi. Otong memilih menggunakan pupuk subsidi Urea dan Phonska untuk memastikan tanaman padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.
Penggunaan pupuk dilakukan dua hingga tiga kali dalam setiap musim tanam. Diketahui bahwa pemupukan yang tepat dapat menentukan hasil panen yang diperoleh. Otong memberitahukan bahwa pemupukan pertama dilakukan 10 hingga 15 hari setelah padi ditanam.
Ia merasa beruntung dengan dukungan pemerintah yang memberikan pupuk subsidi dengan harga sesuai, serta sebagai langkah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Penurunan harga pupuk subsidi tahun ini memberikan harapan baru bagi para petani seperti Otong.
Otong menerangkan bahwa dengan kualitas pupuk yang baik dan dukungan harga yang terjangkau, hasil panen dapat meningkat. “Hasil kami musim kemarin rata-rata 8 hingga 8,5 ton per hektare,” ungkapnya bangga.
Keterlibatan Dalam Organisasi dan Edukasi Petani Lain
Selain memperhatikan usaha pribadinya, Otong juga aktif dalam organisasi tani yang ada. Saat ini, Otong menjabat sebagai Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Jawa Barat. Dalam peran ini, dia berusaha menjembatani komunikasi antara petani dengan berbagai pihak terkait.
Otong percaya bahwa pendidikan dan penyuluhan sangat penting bagi petani. Dalam organisasi tersebut, dia mengupayakan pelatihan teknik budidaya dan penggunaan pupuk yang tepat. Pertemuan rutin diadakan untuk bertukar informasi dan teknik terbaru dalam bertani.
Dia berkomitmen untuk menyebarluaskan pengetahuan yang ia miliki kepada petani lainnya agar semua dapat menikmati hasil yang lebih baik. Dengan sistem ini, banyak petani di desanya yang mendapatkan keuntungan dari hasil pertaniannya.
Dari upaya kolaboratif ini, Otong berharapan dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian secara keseluruhan dan menciptakan jaringan yang kuat di kalangan petani.
Setiap upaya yang dilakukan Otong bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas di sekitarnya. Dengan semangat kolaborasi dan profesionalisme dalam bertani, ia membuktikan bahwa pertanian dapat menjadi jalur yang menjanjikan bagi banyak orang.




