PT Unilever Indonesia Tbk baru saja mengumumkan rencana penjualan bisnis teh Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, sebuah entitas milik Grup Djarum. Dengan nilai transaksi mencapai Rp1,5 triliun, langkah ini menandai perubahan signifikan dalam portofolio perusahaan yang telah lama berkecimpung di industri teh ini.
Transaksi ini resmi dilakukan setelah penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis pada awal bulan Maret lalu. Hal ini tidak hanya menunjukkan dinamika bisnis yang berlangsung, tapi juga menggambarkan strategi Unilever dalam menyesuaikan fokus mereka di pasar Indonesia yang kian kompetitif.
Menurut laporan yang disampaikan, nilai transaksi tersebut setara dengan 45 persen dari ekuitas Unilever per laporan keuangan terakhir yang diaudit. Ini menunjukkan besarnya kontribusi bagian bisnis teh bagi keseluruhan perusahaan, meski Unilever berkomitmen untuk terus berfokus pada bisnis inti lainnya.
Detail dan Implikasi Transaksi Penjualan Bisnis Teh
Unilever menjelaskan bahwa penyelesaian transaksi ini direncanakan berlangsung pada 2 Maret 2026, atau pada waktu lain yang disepakati bersama. Dalam proses ini, kedua belah pihak dijadwalkan akan melakukan serangkaian tindakan penyelesaian yang diatur dalam perjanjian formal.
Saat penyelesaian, akan dilakukan penandatanganan berita acara serah terima dan perjanjian terkait pengalihan aset bisnis yang dimaksud. Hal ini penting agar semua aspek hukum dapat terlaksana dengan baik dan tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Manajemen Unilever juga menjelaskan bahwa penjualan ini merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan nilai investasi mereka. Mereka berharap, melalui proses ini, nilai yang telah diinvestasikan dalam bisnis teh dapat dikembalikan kepada para pemegang saham dalam waktu dekat.
Analisis Dampak Terhadap Kinerja Keuangan Unilever
Dari sudut pandang keuangan, laba bersih yang dihasilkan oleh bisnis teh Sariwangi terhitung cukup kecil, yaitu sekitar 3,1 persen dari total laba bersih perusahaan. Meskipun demikian, pendapatan dari bisnis teh tersebut masih berkontribusi sebesar 2,7 persen terhadap total pendapatan Unilever.
Berdasarkan keterangan yang diterima, total aset yang dimiliki bisnis Sariwangi juga tidak terlalu signifikan, yakni sekitar 2,5 persen dari total aset Unilever. Terlepas dari kontribusi yang ada, manajemen berharap langkah ini tidak akan memberikan dampak material terhadap kinerja operasional mereka.
Dengan strategi ini, Unilever dapat lebih fokus pada pengembangan produk dan layanan yang menjadi inti perusahaan. Penjualan bisnis teh akan memungkinkan mereka untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menjalankan operasi lainnya yang lebih menguntungkan.
Rencana Masa Depan Unilever Setelah Penjualan
Unilever menyatakan bahwa meskipun penjualan bisnis teh Sariwangi akan berlangsung, perusahaan masih berkomitmen untuk terus inovatif dalam produk yang mereka tawarkan. Mereka berencana untuk mengalihkan perhatian dan sumber daya ke kategori-kategori lain yang lebih menjanjikan dalam jangka panjang.
Dalam upaya untuk memperkuat posisi di pasar, Unilever akan mengembangkan lini produk baru yang diharapkan dapat menarik minat konsumen. Hal ini menjadi penting mengingat kompetisi di pasar konsumen semakin ketat dengan berbagai pemain baru yang bermunculan.
Dengan harapan memberikan nilai lebih kepada para pemegang saham, Unilever mengincar pertumbuhan yang berkelanjutan. Fokus mereka kini adalah menciptakan inovasi dan pertumbuhan yang lebih strategis dalam industri yang lebih menguntungkan.




