Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan baru-baru ini, mencatatkan angka minus 168,61 poin pada level 7.935. Dalam situasi ini, total transaksi investor mencapai Rp19,70 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,58 miliar lembar, menunjukkan aktivitas pasar yang tetap tinggi meskipun ada penurunan.
Meski beberapa hari menunjukkan tren positif, dalam sepekan terakhir, indeks saham mengalami penurunan pada tiga hari dan penguatan pada dua hari. Hal ini membawa performa indeks melorot hingga 4,79 persen sepanjang pekan lalu, menciptakan kekhawatiran di kalangan investor.
Menurut P.H. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Alit Nityaryana, kapitalisasi pasar bursa pada periode 2 hingga 6 Februari 2026 mengalami penurunan yang cukup besar. Dari Rp15.406 triliun, angka tersebut kini berada pada level Rp14,341 triliun, mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pasar saham.
Analisis Rincian Pergerakan IHSG dalam Sepekan Terakhir
Rata-rata volume transaksi harian juga menunjukkan tren penurunan, yakni sebesar 31,75 persen dari 63,3 miliar menjadi 43,2 miliar lembar saham. Ini menunjukkan bahwa risiko jual bisa menjadi alasan utama di balik pergerakan indeks saham tersebut.
Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian turun sebesar 43,45 persen, dari Rp43,76 triliun menjadi Rp24,75 triliun. Keadaan ini menunjukkan ketidakpastian yang melanda pasar, di mana banyak investor menahan diri untuk bertransaksi.
Kemudian, frekuensi transaksi harian juga mengalami penurunan 28,62 persen dari 3,82 juta kali transaksi menjadi 2,72 juta kali transaksi. Penurunan frekuensi ini mencerminkan ketidakpuasan investor terhadap kondisi pasar saat ini.
Penyebab Penurunan IHSG dan Tantangan di Depan
Salah satu faktor yang memengaruhi pasar adalah arus keluar dana asing, yang disertai oleh sentimen negatif dari kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hal ini diiringi oleh penurunan rating dari lembaga-lembaga keuangan besar seperti UBS, Nomura, dan Goldman Sachs.
Kekhawatiran terhadap penurunan proyeksi kredit Indonesia oleh Moody’s semakin memperparah kondisi. Investor fokus pada kejelasan dan konsistensi kebijakan ekonomi yang diharapkan, serta isu tata kelola dan transparansi yang menjadi sorotan.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menambah beban bagi pasar. Kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun menjadi faktor lain yang berdampak negatif pada pergerakan pasar saham.
Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Minggu Depan
Mengacu pada prediksi para analis, IHSG diharapkan berfluktuasi dengan volatilitas yang cukup tinggi. Indikator Average True Range (ATR) menunjukkan angka di atas level 230, yang menandakan rentang pergerakan harian IHSG melebar. Diperkirakan bahwa support berada di level 7.780 dan resistance di level 8.128 untuk pekan mendatang.
Meskipun tekanan pasar kemungkinan terjadi, beberapa analis berbagi rekomendasi saham menarik. Di antaranya, PT Telkom Indonesia Tbk atau TLKM, yang diperkirakan bisa mencapai level 3.530.
Selain itu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT juga menjadi sorotan, diperkirakan bisa naik mencapai level 1.920. Rekomendasi khusus dari analis mencerminkan penilaian mereka terhadap potensi penguatan di pasar saham meskipun ada ketidakpastian.
Pihak MNC Sekuritas juga menyiratkan bahwa IHSG dalam sepekan depan masih memiliki potensi menguat secara terbatas. Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran support 7.854 dan resistance 8.168.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa meski terdapat tantangan, pasar masih memiliki peluang untuk mendapatkan kembali daya tariknya. Investor disarankan terus memantau rilis data ekonomi global yang dapat mempengaruhi perilaku pasar.
Perhatian khusus juga diberikan pada inflasi di China, data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat, dan inflasi domestik, yang semua ini bisa berdampak besar pada pergerakan IHSG ke depan.




